chicklit

sedih dan senang semua jadi kenangan. kalo bisa berbagi kenapa enggak? sapa tau bisa jadi inspirasi. karena semua kisah ada makna nya. disini bkn cum cerita gw. simak deh, waktu luang ga akan sia2. i wish….

Archive for December, 2008


work work and work again

malam ini malam minggu. dan gw kudu gawe lagi hari ini. hm…. (sabar…sabar..) padahal sudah punya rencana hari ini tp kudu dibatal kan deh demi kerja ini. tapi mau gmn lagi. tp gapapa lah. kerja juga merupakan salah satu cara untuk berhemat. karena klo kerja ga perlu ngeluarin duit buat macem2. tp klo keluar ama tmn, itu bisa boros banget. ya ongkos, ya makan, ya jajan. tp ya itu dia, seneng banget sih rasa nya.

tp kerja kali ini seneng juga. dari sejak datang, gw nongkrong di ruang NMS, ruang kerja gw dulu waktu piket. wajah NMS sekarang udah jauh berbeda dengan yang dulu. wajah baru semua. ruangan nya juga baru design nya. ga kayak dulu. jadi lebih seru aja. ngumpul sama anak2 piket sekarang. yang ga tabiat nya ga jauh beda dengan anak2 NMS yang dulu yaitu jago makan. klo ada makanan diruangan ini, pasti ga pernah tahan lama. NMS skr nama nya udah berubah. menjadi FMS. tp kalo kerja nya sih prinsip nya sama aja. sistem piket gt.

setelah ngobrol bentar ama anak2 FMS, gw menyampaikan progres kerja gw malam ini. biar gampang dibantu mereka ntar klo gw udah di lapangan. hehehehe. sebelum pergantian piket pagi ke piket siang, gw sempat2 kan dulu untuk berfoto dahulu dengan mereka. dan ini lah hasil nya. hihihihihi.

selamat bekerja…………. di malam minggu

11 november 2008 (part 2)

ntah apa yang ada dibenak ku saat itu. semua kosong. aku membayangkan wajah papa. betapa banyak yang belum aku lakukan untuk nya. aku berteriak tak jelas pada om ujang “kenapa om ngomong gt?kenapa om?” nada bicara ku berteriak. waktu itu aku sambil turun dari mobil, aku sudah tiba di dpn kost ku. sepanjang menuju kamar, aku berteriak2 kepada om ujang. aku minta padanya untuk tidak mengucapkan hal seperti itu. mungkin semua tetangga saat itu mendengar teriakan ku dengan heran. aku terus berteriak sambil menangis. lalu aku tutup telpon dengan rasa marah ku. aku kecewa sekali rasa nya pada om ujang. aku berharap dia bohong. hari itu, selasa pagi itu rasa nya aku tak ingin ada di hari itu. aku berteriak “ya Allah, tolong tunjukkan pada ku klo ini ga bener ya Allah”. enday yang di utus untuk menemani ku ke airport hanya berjalan di belakang ku sambil mengatakan “sabar ya mbak, tabah mbak”. aku tak menghiraukan nya. aku mengambil tas travelku, mengisi dengan sebuah celana panjang dan beberapa baju. lalu menyempatkan mengambil al-quran yang ada di meja sebelah tempat tidurku dan langsung berjalan lagi ke arah mobil.pak supir yang sejak tadi diam, ikut menghampiriku dan mengambil tas di tangan ku. enday langsung duduk di kursi tengah  bersamaku. aku masih menangis tersedu-sedu. hp ku terus berdering. klo bukan dari saudara2 ku, tak akan aku angkat telp2 itu. langsung aku berikan kepada enday supaya dia saja yang berbicara. aku tak mau di ganggu. aku menangis menghadap ke jendela mobil. mobil bergerak ke arah bandara. pak firza pun menelpon ku. mungkin dia ingin memberi kabar padaku. begitu aku angkap telp itu aku langsung bilang “pak, saya sudah tau” nadaku melemah. aku hanya bisa menangis. pak firza memintaku menyerahkan telpon ku pada enday. lalu mereka berkoordinasi. entah apa itu aku tak perduli. yg ku ingat hanya imam, ferro dan puspa. aku sms mereka. “Doain gw tabah ya. Bokap gw dah ga ada. gw sedih banget. jangan telp gw dl”

enday mengaji disamping ku. aku bersandar di bahu nya sambil tersedu2. bacaan al-quran itu tersendat2 karena banyak sekali telpon yang harus di angkat. dari pak firza, hingga dari managerku. semua ikut sibuk mengurus tiketku. temen2ku pun mulai tau dan mulai mengirim sms belasungkawa nya. tak ada yang ku balas. aku hanya ingin menangis. hanya telp dari lia, anne, dan alfi serta dari saudara2ku yang aku angkat. pandangan ku menerawang, mengingat papa. sejuta pertanyaan dlam benak ku, kenapa papa meninggal hanya karena jatuh? jatuh seperti apa sih sebenar nya? aku benar2 ga habis pikir.

proses mendapatkan tiket pun tak gampang. untung nya sudah di pesan pak firza sebelumnya. untung di dompet ku ada uang dengan jumlah yang sama besarnya dengan harga tiket itu. padahal uang itu tadinya buat bayar hutang. tp alhamdulillah masih terselamatkan berkat uang itu untuk membeli tiket yang medadak ini. aku pun berpamitan dengan enday. aku masuk sendiri ke ruang tunggu. tp masih harus antri di dpn loket pesawat. aku hampir menangis lagi dibuat penjaganya. karena aku merasa di pimpong oleh nya. akhirnya dia mendahului aku karena aku sudah menangis. mungkin mereka mengira aku terlalu cengeng. padahal aku khawatir sekali ketingalan pesawat, karena waktuku hanya tinggal 15 mnt lagi. dan mereka masih memaksaku untu ngantri dengan penumpang yang jurusan nya berbeda dengan ku. tp perjuangan itu terlewatkan. aku tiba di ruang tunggu tanpa sempat duduk, karena sudah harus langsung masuk ke pesawat. aku merasa sedikit lega.

selama dalam pesawat, aku hanya membaca al-quran dan menangis. mataku bengkat tak karuan. tulisan al-quran pun mulai samar2 di mata ku. antara air mata yang selalu membasahi mata dan kelopak mata ku yang membengkak. membuatku berhenti untuk membaca. aku lanjutkan menangis. menangis tanpa suara. aku hanya menatap jendela. mengingat kejadian2 terakhir bersama papa. mengingat janji2ku pada papa yang belum sempat ku penuhi.

aku tiba di medan dengan mata bengkak dan air mata mengering. faisal dan pak firza sudah menunggu tepat di dpn pintu kedatangan. faisal langsung menyambutku dan meraih tasku. dia memegang tanganku begitu juga pak firza. mereka ada di sisi kiri dan kanan ku. mungkin mereka takut aku tiba2 pingsan. dan kamipun bergerak ke rumahku. aku dan pak firza di kursi tengah. faisal dan supir di dpn. dan kemudian jalanan macet. aku rasanya ingin menangis lagi. bahkan aku rasanya tak ingin ada percakapan di mobil saat itu. aku ingin sendiri saja rasanya. mobilpun dengan gesit menembus padat nya mobil saat jam pulang sekolah itu. tak lama, kami harus belok kiri ke rumah ku di jalan alfalah. tepat di belokan itu aku melihat bendera kertas merah. menandakan ada yang sedang dalam keadaan duka. itu bendera untuk papa. aku ingin berteriak lagi dan ingin menangis sekencang2 nya. kenapa ini terjadi padaku ya Allah? aku semakin tak habis pikir.

tiba di depan rumah ku, yang sudah ramai dengan pria2 berpeci. rumah ku ramai? tp kenapa harus dengan cara seperti ini? aku langsung turun tanpa memperdulikan pak firza dan faisal. aku menagis dan memasuki rumah. di dalam rumah sudah tak ada kursi lagi. semua orang duduk di lantai. wanita2 berkerudung dan ramai sekali. hanya ada sebuah tempat tidur, dan papa terbaring di atas nya di tutupi kain selendang putih. Astarfirullahalazim. benarkah pandangan ku? papa yang selama ini selalu segar dan ceria, kini hanya terbujur kaku di ruang tengah. kaku sekali hingga tak menghiraukan kehadiranku. tidak seperti biasanya ketika aku pulang ke medan. dialah orang yang menjemputku dan dialah yang selalu mengajakku bercanda tentang mama. kali ini papa hanya diam. tenggorokanku rasanya kering sekali saat itu. aku berjalan lemas dan menangis. aku mencoba mencari keberadaan mama, karena semua tampak sama saja oleh mataku. lalu ku liat mama dengan baju putih, menangis di sebelah kanan papa. aku langsung memeluknya. mama langsung menjadi2 “chi, papa udah ga ada chi. papa ga pamit sama mama chi. mama sedih chi”. aku hanya mengangguk2 saja. kami berdua menangis dlam pelukan. mama menyuruhku melihat papa. aku tak tau harus berkata apa. sebagian otak ku masih ingin mengatakan bahwa ini ga benar. aku masih berharap ada keajaiban. aku berharap ini bukan nyata. semoga aku terbangun dari mimpi itu. ku angkat selendang putih di wajah papa. aku langsung berkata “pa, cici minta maap ya pa klo selama ini chichi ada salah, cici minta maaf jika blm memenuhi keinginan papa” aku tertunduk dan air mataku mengucur deras. aku tak mau air mata itu tertetes di wajah papa, dengan segera aku tutup kembali dengan selendang. lalu aku berwudhu. aku sholat ashar. aku menangis dalam sholat ku.

 

hari itu, selasa 11 november 2008 kujalani dengan teramat berat. aku bagaikan orang yang sedang berjalan dengan terpaksa. aku tak siap, tapi harus ku jalani. aku tertatih2. aku melangkah dengan berat. pikiran ku penuh. dan sebutir nasipun tak mampu ku telan. tak ada rasa lapar ku. dan tak ada nafsu makan ku.

hari itu, aku tak tau harus bagaimana. yg terbayang dalam otakku adalah, aku harus menghadapi kenyataan pahit ini. tak bisa ku hindari, tak bisa ku pungkiri. saat terberat dalam hidupku. bacaan al-quran mengalir untuk papa. aku menghabiskan waktu membaca al-quran di samping papa.

walaupun papa tak lagi bisa menyapaku. walaupun papa tak lagi mampu melihatku. walaupun papa tak lagi bernyawa, aku menikmati saat2 terakhirku bersama jasad nya. pada akhirnya aku mencoba untuk tegar disampingnya. tak menangisi nya lagi. aku tak ingin dia bersedih melihatku begini. aku temani papa dengan doa. semoga Allah swt, memudahkan segala urusan nya di alam sana. Amien… ya Rabbal Alamin….

11 November 2008 (part 1)

pagi itu, seperti biasa mama dan papa bangun pagi tanpa sesuatu hal yang berbeda. papa menyiapkan sediri peralatan tenis nya. dan mama dengan kesibukan nya sendiri. namun pagi ini, mama tak mengantar papa ke teras seperti biasa nya. memang bukan suatu hal yg khusus sih, tp biasanya mama berada di teras rumah saat papa pergi meninggalkan rumah dengan mobil panther merah nya. kali ini mama masih di dalam rumah, dan papa sudah pergi ke lapangan tenis.

hari itu permainan tenis pun tak ada beda nya dengan hari2 sebelum nya. perkumpulan para pensiunan yang hobi bermain tenis pun tetap segar bugar seperti biasanya. semua yang menjadi anggota klub tenis yang papa ikuti adalah klub tenis bagi orang2 pensiunan. bermacam pensiunan ada di situ, dari karyawan swasta, pengacara, dokter, sampai dosen semua bergabung di klub itu. dan seperti biasa, permainan mereka tak terlalu serius, pukulan nya pun tak sedahsyat ketika mereka muda dulu. hanya saja, saat mereka tua seperti saat skr ini, tenis sangat membantu mereka mengisi waktu luang dengan sehat.

pagi ini papa “tanding” dengan teman2 nya. bukan pertandingan serius pastinya. sama seperti hari lain, mereka menyebut nya “tanding” karena permainan ini benar2 dimainkan sesuai peraturan. jadi di hitung dengan benar. tak ada hadiah, hanya rasa puas saja yang dicari. kali ini, papa dan ibu dian jadi partner. sementara di sisi lawan pak sultan dan pak dian (suami bu dian) menjadi lawan tanding nya.

di awal pertandingan, papa dan bu dian sudah mampu mengunggulin pak sultan dan pak dian dengan skor besar 5- 0.  artinya hanya perlu 2 nilai besar lagi untuk dapat menjadi juara. tapi ternyata tak segampang itu. nilai pun mulai disusul oleh pak sultan dan pak dian hingga akhirnya bernilai 5 -5. papa mulai mengatur strategi, papa minta agar bu dian menjaga bagian depan, dan papa di bagian belakang. pertandingan itu di warnai dengan canda tawa. seperti biasa bapak2 dan ibu2 itu saling meledek jika ada yang sudah lelah atau capek. ini sudah biasa diantara mereka karena semua mereka paham kondisi mereka yang sudah tua.

tiba giliran papa untuk serve bola pertama. tp papa terdiam beberapa saat. bu dian memperhatikan papa seperti kelelahan. tp papa tak berkata apa2. teman2 yang lain sudah mulai dengan ledekan nya. “ayo panggil ambulan, ada yang mulai capek nih” kira2 begitulah teriakan pak dian. papa membungkukkan badan nya. tangan kanan nya menopang pada raket yang dijadikan nya sebagai tongkat untuk menahan badan nya. tangan kiri nya memegang dada nya. kondisi itu berlangsung lumayan lama. bu dian dan yang lain nya masih menyangka papa bercanda, karena papa orang nya memang suka bercanda. namun, tak lama kemudian, papa tersungkur ke arah depan. dia terbaring di lapangan tenis dengan posisi terlungkup. ini lah yang membuat ada luka lecet di pipi papa. saat itu juga rekan2 nya mulai panik dan berlari ke arah papa. badan papa dibalik ke posisi terlentang, papa tidak sadarkan diri. hanya mengeluarkan suara seperti mengorok yang hanya sekali dan singkat. diperkirakan, itulah saat terakhir papa bernyawa. tp, rekan2 nya segera membawa papa ke rumah sakit malahayati. jarak nya sangat dekat. hanya 10 mnt. tp papa tak bisa diselamatkan. sempat dibantu dengan oksigen dan pompa jantung. tp papa tak terselamatkan juga.

sementara itu di rumah. mama masih asyik ngobrol dengan ibu batubara tetangga sebelah kiri rumah kami. mereka selalu melakukan rutinitas itu sebelum memulai pekerjaan. berdiri di masing2 pagar dan saling bercerita tentang apapun. dari soal politik sampai ke harga bawang.

pagi itu tiba2 teman tenis papa om agus datang menjemput mama. dia hanya mengatakan “bu bapak jatuh, skr bapak di rumah sakit”. mama bingung banget. dia berfikir mungkin papa jatuh karena lari dan tersandung. tp mama heran kenapa sepertinya terlalu resah. mama pun mengajak ibu batubara untuk ikut ke rmh sakit. dan ibu batu bara pun ikut.

sepanjang perjalanan, om agus sibuk menerima telepon dari rekan2 nya di rumah sakit. tp dia tidak memberi tahu mama apa isi telp itu. dia mencoba mengalih2kan pembicaraan. mama pun dengan resah langsung menelpon aku yang berada di jakarta. nada suara mama resah bukan kepalang, tp dia tidak menangis. bahkan aku lah yg hampir menangis tp ku tahan, karena aku ga mau mama makin panik.

sesampai di rumah sakit, mama merasa dunia runtuh dikepala nya. dia melihat papa sudah ditutup kain panjang. tanpa mengucap sepatah katapun papa sudah meninggalkan mama 20 menit yang lalu. tak ada pesan dan tak ada peringatan. mama menangis sejadi2nya.

ibu batubara berinisiatif pulang sendiri. dia membawa kunci rumah mama dan pulang naik becak. dia memanggil tetangga dan para anggota stm (serikat tolong menolong) sekitar. dan nama papa pun langsung dikumandangkan di mesjid dpn rumah kami sebagai pengumuman bahwa papa sudah tiada.

sementara aku di jakarta, tengah panik dan menangis dengan hati yang penasaran. telp dari mama hanya mengatakan “ci, papa jatoh” tanpa tau papa jatuh kenapa, dan bagaimana kondisinya saat ini. saat masih dikntr, aku menangis di dpn manager ku meminta ijin untuk pulang ke medan. melihat kondisi ku, managerku pun memberikan mobil dinas nya untuk mengantar ku ke airport. sepanjang perjalanan, aku mencoba menghubungi siapapun di medan yang tau kondisi papa. sampai, pak firza, tmn kntrku yang menempati regional medan, aku minta untuk melihat papa di rumah sakit malahayati.

mobil yg mengantarku masih melaju di sekitar pondok labu. hanya 5 mnt sebelum aku tiba di kost untuk mengambil baju, aku melihat telp ku berdering. dari mama. aku senang sekali, aku berharap mama bilang papa cuma sakit biasa atau apalah. yang penting aku dpt kabar tentang papa. ternyata setelah ku angkat telp itu, bukan suara mama yang ku dengar. tp suara om ujang. teman papa dan mama. om ujang hanya menyuruh aku pulang. dan aku bertanya ” om, papa kenapa?” om ujang hanya menjawab “udah cici tenang aja, cici pulang ya nak”. aku masih ga ngerti, kenapa dengan papa. lalu ku tanya lagi ” papa kenapa om?” lalu om ujang menjawab lagi “yang tabah ya chi.. tabah ya nak, pulang sekarang ya…” aku berharap ada berita selanjut nya. anggaplah dia bilang papa strok, atau papa apalah, aku pengen kalimat itu ada sambungan nya. tp ternyata om ujang hanya mengulang kalimat itu dan itu lagi. dan akhirnya aku mengerti maksud nya. dan aku pun mulai kehilangan akal, dan menjeritttttttttttttttttttt.

terus berjalan…

akhir nya sudah 3 minggu juga terlewati. alhamdulillah air mata itu mulai berhenti. akhirnya aku bisa kembali tertawa bersama teman2ku. aku yakin sejak awal, bahwa hanya waktu yg mampu menghentikan air mata itu. walau kadang air mata itu masih setia menemani.

aku mensyukuri setiap waktu yang diberikan kepadaku. walaupun pernah berat sekali melewati nya. pekerjaan ini terkadang selalu membantu melengahkan ku untuk tidak terus menerus nelongso seperti kemarin. tp sekarang, hari ini, detik ini, aku sudah mulai bisa tertawa.

aku masih sayang papa kok. tetap, hingga detik ini. tak berubah sedikit pun. tp, saat dimana aku mulai bisa melupakan kisah 11 november yang benar2 mengejutkan hatiku, maka aku akan bersyukur dengan ketenangan hati ku detik ini. mulai bisa berdoa lebih tenang, dan lebih ikhlas.

 kadang aku masih ingin merasa bahwa yang kualami ini tidak nyata. papa ga ada. itu rasanya benar2 ga masuk akal. tp sekarang aku mulai mengerti rahasia Ilahi. aku tau bukan papa saja yang bisa diambil, tp seluruh umatNya, karena semua milik Allah akan kembali pada Nya.

skr tinggal mama yang aku punya. semoga aku bisa memanfaatkan waktuku untuk dapat membahagiakan mama. insyaAllah.

dan waktu terus berjalan, aku harus melanjutkan cerita hidupku. aku harus tetap tegar. walau tanpa papa.