lebaran ke 2, tepat nya tanggal 2 oktober yang lalu. kami sekeluarga mengunjungi tetangga2 kami di skitar rumah. aku, papa, mama, kak lusi, bang mora (suami kak lusi), lili (kakak iparku), rara, okan, dan miko. 
kami mengunjungi rumah dokter guntur. tepat nya berada di dpn rumah kami. jadi tinggal nyebrang aja. setelah beberapa lama disana, dan menikmati hidangan lontong sayur yang nikmat, tiba2 papa ku di telp oleh abang ku yang ada di rumah, karena di rumah sedang ada tamu di rumah. jadi kami pun bersiap2 untuk pulang.
karena kondisi jalanan di daerah rumah kami itu ramai yang lalu lalang, rara dan miko harus di pegang dan di jaga untuk menyebrang. waktu itu tangan kanan ku sedang memegang sepatu miko. karena miko digendong oleh mama nya. sedang kan rara dan okan, keduanya berebut mau menyebrang dengan ku tidak mau dengan yang lain. tangan kiri ku menggenggam tangan rara. okan muncul di sebalah kanan. tp, karena tangan kanan ku sedang memegang sepatu, aku meminta okan untuk menggengam leganku dan memintanya untuk tidak melepaskan nya.aku pun bersiap2 untuk menyebrang. kondisi jalan sudah agak sepi. tp, kebiasaan pengendara di jalan itu, jarang sekali yang berjalan pelan. rata2 kecepatan nya diatas 40km/jam jadi kudu ekstra hati2.
waktu itu, sisi kanan jalan sudah mulai kosong, tinggal menunggu becak mesin yang akan lewat dari sisi kiri jalan. becak mesin di medan jalan nya pasti kenceng. apalagi kalo ada penumpang. jadi, waktu itu aku udah mau siap2 untuk nyebrang. sekali lagi aku ingatkan ke okan “pegang tangan bunda ya nak, jangan di lepas” dan diapun semakin keras menggenggam tangan ku. aku pun yakin pada okan. lalu sambil menunggu becak mesin itu lewat, aku pun maju satu langkah. tapi tiba2 diluar dugaan, okan melepas tangan nya dan berlari sendirian. spontan saja jantungku mau copot. ibu okan, aku, mama rara, bang mora semua berteriak memanggil nama nya. becak mesin itu pun tiba2 nge-rem mendadak. semua orang terpaku. benar2 keadaan yang menegangkan. jarak antara becak mesin itu dan okan benar2 pendek sekali. semua nya begitu jantungan melihat keadaan itu. begitu pula saudara2 ku yang sedang duduk di teras rumah kami. mereka pun ikut berteriak melihat okan yang tiba2 lepas dari pegangan ku.
okan pun sampai di pekarangan rumah ku dengan selamat. dia melihat kebelakang dengan heran, karena semua orang tadi memanggil nama nya sambil berteriak. lalu paras wajah nya berubah. dia ketakutan. karena hampir semua orang marah pada nya. ibu nya, om mora nya, dan jg bunda nya. kalau tukang becak tadi tak cekatan mengerem becak nya, mungkin okan sudah tak bisa di prediksi keadaan nya. tukang becak tadi pun tak luput dari sumpah serapah nya ke arah kami. wajar ku rasa. semua orang pasti kaget dengan kondisi itu. dan pasti orangtua lah yang disalahkan.
okan berjalan pelan ke arah abang ku (ayah nya). ayah nya yang tadi berada di dalam rumah, tidak mengetahui kondisi yang telah terjadi. dia hanya heran melihat okan yang membisu dalam pelukan nya. wajah okan ingin menangis, tp di tahan. semua orang masih jantungan. masih marah kepada nya. terutama aku. aku ga habis pikir. aku paling jantungan atas kejadian tadi. aku berulang kali berkata pada okan “kenapa okan lepas tangan okan dari bunda? okan ga denger apa yang bunda bilang ya?”. ibu nya pun masih larut dalam amarah. hanya kak lusi (mama rara) yang menjadi pembela okan. dia minta supaya jgn ada yang memarahai okan. malahan kak lusi lah yang menangis memeluk okan. yang lain masih lemes karena jantungan.
kami berkumpul di dapur. aku, kak lusi dan lili (mama okan). kak lusi masih menangis meminta kami untuk berhenti marah. sebenar nya aku dan lili memang sudah tidak marah, hanya saja kami masih jantungan atas kejadian tadi. kami pun menenangkan diri. sampai hampir lupa bahwa ada sanak saudara kami di ruang tamu. tak lama, papa dan mama pun turut membahas masalah tadi. ayah okan juga datang ke dapur, dia sudah mendengar cerita itu dan ngomel2 padaku. aku tau, ini memang salah aku. kalo terjadi sesuatu pada okan, maka aku lah tersangka satu2 nya. Astarfirullahhalazim…. aku sampai lupa mengucap syukur pada ALLAH swt atas keselamatan yang Dia berikan pada Okan.
tak lama, kami pun berkumpul di ruang tv. okan dalam pelukan lili. aku, rara, dan kak lusi juga berada disana. aku minta okan untuk memelukku. tp dia diam membeku dalam pelukan ibu nya. tak ada kata. parasnya masih layu. mata nya masih basah. dia masih membisu hanya menggeleng kepala saja. aku mendekat padanya. aku peluk okan, aku minta maap. dia masih membisu.
“okan tau kan kenapa bunda marah tadi. karena bunda sayang ama okan. bunda tadi takut okan ketabrak. bunda hanya marah karena okan ga denger ucapan bunda. kalo okan ga lepas tangan okan, bunda ga akan marah2 sama okan nak. okan tau kan bunda sayang sama okan?” air mataku sedikit ditahan. berperang dengan gejolak emosi. karena kalo di lepas bakalan panjang deh, kak lusi bakalan ikut2an nangis.trus rara juga latah jadi nangis. udah deh, bakalan ada ada “termehek2″. air mataku berhasil di bendung. okan sudah mulai melingkarkan tangan nya di punggung ku. walapun wajah nya blm bisa tersenyum.
sepanjang hari itu okan tak seceria biasanya. tp dia sudah mulai beraktifitas lagi. sedikit pelajaran juga untuk okan, agar memahami bahwa dia tak boleh menyebrang jalan sendiri. juga untuk bunda nya, agar tak membiarkan anak2 tidak di pegang kalau menyebrang. ya ALLAH, terimakasih atas keselamatan yang Engkau berikan pada keponakan ku itu.