pagi itu, seperti biasa mama dan papa bangun pagi tanpa sesuatu hal yang berbeda. papa menyiapkan sediri peralatan tenis nya. dan mama dengan kesibukan nya sendiri. namun pagi ini, mama tak mengantar papa ke teras seperti biasa nya. memang bukan suatu hal yg khusus sih, tp biasanya mama berada di teras rumah saat papa pergi meninggalkan rumah dengan mobil panther merah nya. kali ini mama masih di dalam rumah, dan papa sudah pergi ke lapangan tenis.
hari itu permainan tenis pun tak ada beda nya dengan hari2 sebelum nya. perkumpulan para pensiunan yang hobi bermain tenis pun tetap segar bugar seperti biasanya. semua yang menjadi anggota klub tenis yang papa ikuti adalah klub tenis bagi orang2 pensiunan. bermacam pensiunan ada di situ, dari karyawan swasta, pengacara, dokter, sampai dosen semua bergabung di klub itu. dan seperti biasa, permainan mereka tak terlalu serius, pukulan nya pun tak sedahsyat ketika mereka muda dulu. hanya saja, saat mereka tua seperti saat skr ini, tenis sangat membantu mereka mengisi waktu luang dengan sehat.
pagi ini papa “tanding” dengan teman2 nya. bukan pertandingan serius pastinya. sama seperti hari lain, mereka menyebut nya “tanding” karena permainan ini benar2 dimainkan sesuai peraturan. jadi di hitung dengan benar. tak ada hadiah, hanya rasa puas saja yang dicari. kali ini, papa dan ibu dian jadi partner. sementara di sisi lawan pak sultan dan pak dian (suami bu dian) menjadi lawan tanding nya.
di awal pertandingan, papa dan bu dian sudah mampu mengunggulin pak sultan dan pak dian dengan skor besar 5- 0. artinya hanya perlu 2 nilai besar lagi untuk dapat menjadi juara. tapi ternyata tak segampang itu. nilai pun mulai disusul oleh pak sultan dan pak dian hingga akhirnya bernilai 5 -5. papa mulai mengatur strategi, papa minta agar bu dian menjaga bagian depan, dan papa di bagian belakang. pertandingan itu di warnai dengan canda tawa. seperti biasa bapak2 dan ibu2 itu saling meledek jika ada yang sudah lelah atau capek. ini sudah biasa diantara mereka karena semua mereka paham kondisi mereka yang sudah tua.
tiba giliran papa untuk serve bola pertama. tp papa terdiam beberapa saat. bu dian memperhatikan papa seperti kelelahan. tp papa tak berkata apa2. teman2 yang lain sudah mulai dengan ledekan nya. “ayo panggil ambulan, ada yang mulai capek nih” kira2 begitulah teriakan pak dian. papa membungkukkan badan nya. tangan kanan nya menopang pada raket yang dijadikan nya sebagai tongkat untuk menahan badan nya. tangan kiri nya memegang dada nya. kondisi itu berlangsung lumayan lama. bu dian dan yang lain nya masih menyangka papa bercanda, karena papa orang nya memang suka bercanda. namun, tak lama kemudian, papa tersungkur ke arah depan. dia terbaring di lapangan tenis dengan posisi terlungkup. ini lah yang membuat ada luka lecet di pipi papa. saat itu juga rekan2 nya mulai panik dan berlari ke arah papa. badan papa dibalik ke posisi terlentang, papa tidak sadarkan diri. hanya mengeluarkan suara seperti mengorok yang hanya sekali dan singkat. diperkirakan, itulah saat terakhir papa bernyawa. tp, rekan2 nya segera membawa papa ke rumah sakit malahayati. jarak nya sangat dekat. hanya 10 mnt. tp papa tak bisa diselamatkan. sempat dibantu dengan oksigen dan pompa jantung. tp papa tak terselamatkan juga.
sementara itu di rumah. mama masih asyik ngobrol dengan ibu batubara tetangga sebelah kiri rumah kami. mereka selalu melakukan rutinitas itu sebelum memulai pekerjaan. berdiri di masing2 pagar dan saling bercerita tentang apapun. dari soal politik sampai ke harga bawang.
pagi itu tiba2 teman tenis papa om agus datang menjemput mama. dia hanya mengatakan “bu bapak jatuh, skr bapak di rumah sakit”. mama bingung banget. dia berfikir mungkin papa jatuh karena lari dan tersandung. tp mama heran kenapa sepertinya terlalu resah. mama pun mengajak ibu batubara untuk ikut ke rmh sakit. dan ibu batu bara pun ikut.
sepanjang perjalanan, om agus sibuk menerima telepon dari rekan2 nya di rumah sakit. tp dia tidak memberi tahu mama apa isi telp itu. dia mencoba mengalih2kan pembicaraan. mama pun dengan resah langsung menelpon aku yang berada di jakarta. nada suara mama resah bukan kepalang, tp dia tidak menangis. bahkan aku lah yg hampir menangis tp ku tahan, karena aku ga mau mama makin panik.
sesampai di rumah sakit, mama merasa dunia runtuh dikepala nya. dia melihat papa sudah ditutup kain panjang. tanpa mengucap sepatah katapun papa sudah meninggalkan mama 20 menit yang lalu. tak ada pesan dan tak ada peringatan. mama menangis sejadi2nya.
ibu batubara berinisiatif pulang sendiri. dia membawa kunci rumah mama dan pulang naik becak. dia memanggil tetangga dan para anggota stm (serikat tolong menolong) sekitar. dan nama papa pun langsung dikumandangkan di mesjid dpn rumah kami sebagai pengumuman bahwa papa sudah tiada.
sementara aku di jakarta, tengah panik dan menangis dengan hati yang penasaran. telp dari mama hanya mengatakan “ci, papa jatoh” tanpa tau papa jatuh kenapa, dan bagaimana kondisinya saat ini. saat masih dikntr, aku menangis di dpn manager ku meminta ijin untuk pulang ke medan. melihat kondisi ku, managerku pun memberikan mobil dinas nya untuk mengantar ku ke airport. sepanjang perjalanan, aku mencoba menghubungi siapapun di medan yang tau kondisi papa. sampai, pak firza, tmn kntrku yang menempati regional medan, aku minta untuk melihat papa di rumah sakit malahayati.
mobil yg mengantarku masih melaju di sekitar pondok labu. hanya 5 mnt sebelum aku tiba di kost untuk mengambil baju, aku melihat telp ku berdering. dari mama. aku senang sekali, aku berharap mama bilang papa cuma sakit biasa atau apalah. yang penting aku dpt kabar tentang papa. ternyata setelah ku angkat telp itu, bukan suara mama yang ku dengar. tp suara om ujang. teman papa dan mama. om ujang hanya menyuruh aku pulang. dan aku bertanya ” om, papa kenapa?” om ujang hanya menjawab “udah cici tenang aja, cici pulang ya nak”. aku masih ga ngerti, kenapa dengan papa. lalu ku tanya lagi ” papa kenapa om?” lalu om ujang menjawab lagi “yang tabah ya chi.. tabah ya nak, pulang sekarang ya…” aku berharap ada berita selanjut nya. anggaplah dia bilang papa strok, atau papa apalah, aku pengen kalimat itu ada sambungan nya. tp ternyata om ujang hanya mengulang kalimat itu dan itu lagi. dan akhirnya aku mengerti maksud nya. dan aku pun mulai kehilangan akal, dan menjeritttttttttttttttttttt.